} #navright {

Kamis, 09 Juni 2011

Aku Penulis I : Edison bisa…Aku juga..!!!


Suatu hari, ketika dalam perjalanan pulang kerumah, saya melihat seorang anak yang sedang menangis karena jatuh dari sepeda. Saya melihat peristiwa ini seakan kembali ke masa kanak-kanak, ketika ayah sedang mengajari saya naik sepeda. Berkali-kali saya terjatuh, tiang listrik, pagar tetangga, selokan seakan mereka sudah akrab karena sering jadi sasaran mendarat saya.he tentunya teman-teman pernah merasakannya juga kan..? tapi pernahkah teman-teman mencoba menuliskan pengalaman-pengalaman tersebut, dari belajar naik sepeda, dihukum guru bahasa inggris karena tidak mengumpulkan PR, jadi juara makan kerupuk tingkat Rt saat perayaan HUT-RI, di marahi bapak saat jatuh cinta pertama kali. Wah pokoknya banyak deh..
·         Jangan Takut Gagal
Pengalaman sehari-hari bisa menjadi inspirasi kita untuk menulis cerpen atau novel, teman-teman tentu ingat film “Kambing Jantan”, salah satu film yang diangkat dari kisah seorang mahasiswa gokil yang rajin menuliskan kisah sehari-hari yang dia alami kedalam blognya, alhasil bukan hanya jadi novel best seller malah jadi film layar lebar. Ya betul sekali dialah Raditya dika. Adalagi JK Rowling si “tukang sihir” pernah berpesan, tuliskanlah sesuatu yang dekat dengan kita. Tapi tetap juga dilengkapi dengan riset ke lapangan (fild research); melakukan wawancara atau di rumah saja (desk risearch), membaca buku dan menjelajahi internet.
                                          
Ketika teman-teman menuliskan hal-hal kecil yang anda sekitar berarti kalian sedang menjalani proses untuk menjadi penulis handal. Kita harus buang jauh-jauh pikiran takut di tolak penerbit, malu karena susunan bahasanya, belum pede di baca teman. Jangan pernah takut gagal, apalagi gagal tuk mencoba. Thomas Alfa Edison, penemu listrik itu, pernah mengalami kegagalan sebanyak 9000-an kali. Tapi itulah Edison, tidak pernah kapok. Bahkan gara-gara eksprimennya itu dia sampai membuat rumahnya kebakaran. Apa kata dia? “Itu berarti saya jadi mengetahui, bahwa ada 9000 jenis materi yang jika digabungkan tidak bisa menghasilkan listrik!” satu kata yang terbersit di pikira saya “Edan”, ha ya berkat keedanan seorang yang tak pernah takut mencoba, gigih, kekerasan hati, kesungguhan,dan juga kerja kerasnya dunia kita menjadi terang benderang dan penuh warna. Coba bayangkan apa yang terjadi kalau dia putus asa pada percobaan ke seratus.
Tahun 1877 ia berkonsentrasi pada lampu pijar. Edison sadar betapa pentingnya sumber cahaya ini bagi manusia. Dia menghabiskan 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk eksperimen lampu pijar. Yang menjadi masalah adalah menemukan bahan yang bisa berpijar ketika di aliri arus listrik namun tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya. Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirnya lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala 40 jam. Tahun 1882, untuk pertama kalinya dalam sejarah lampu-lampu listrik di pasang di jalan-jalan dan di rumah-rumah.
Sungguh patut direnungkan ketika saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab:
“Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut dengan kegagalan”
Ketika dia telah banyak sekali mengalami kegagalan yang berulang-ulang. Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalan, Thomas Alfa Edison menjawab:
“Dengan kegagalan tersebut, saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala”.
Satu kata untuk Edison “Dahsyat”, dia memandang sebuah kegagalan sebagai sebuah hal yang sangat positif. Kegagalan bukan kekalahan tapi sebuah keuntungan. Cara memandang yang positif ini membuat Edison mampu meyakinkan orang lain untuk tetap mendanai proyeknya meskipun gagal berulang-ulang kali. Prinsin Edison ini yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa sebenarnya kita tidak pernah mengalami kerugian, dan sesungguhnya kerugian itu bermula dari sikap dan cara pandang kita sendiri yang negatif. Yuk menulis kalau kita gagal dalam menulis.. ya menulis lagi…!!!
GolaGong mengibaratkan jika menulis itu diibaratkan kita sedang menaiki sepeda motor, maka membaca buku adalah bensinnya. Di kelas menulis Rumah Dunia, 4 keterampilan berbahasa adalah prosedur yang harus ditempuh jika ingin bisa menuangkan gagasan dalam bentuk karangan. Pertama, dia harus mau mendengar, berbicara, membaca, dan akhirnya menulis. Keempat hal ini adalah prasarat utama sebelum kita betul-betul menjadi pengarang profesional.
“Jangan melihat seorang dari berapa kali ia terjatuh, tapi lihatlah ia dari berapakali ia sanggup bangkit kembali”